Series: Lovasket, #2
Penulis: Luna Torashyngu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit: Juni 2010
Jumlah halaman: 264
Rating: ê궶¶
Melanjutkan cerita Lovasket, novel ini berkisah tentang
Savira Priskila dan segala tetek bengek kehidupan basketnya. Memasuki tahun
terakhir sekolahnya, Vira dan Rida mendapat undangan untuk mengikuti seleksi
Tim Junior Jawa Barat. Mereka akhirnya bergabung dengan tim itu bersama
Stephanie, Stella dan Alexa (teman Vira di SMA Altavia), juga beberapa pebasket
dari kota lain, salah satunya Sita dari Tasikmalaya.
Di tengah latihan mereka, Stella mendadak mengundurkan diri
dari tim. Hal ini cukup mengejutkan, mengingat sifat Stella yang nggak mau
kalah, dan kemampuan Stella yang selama ini dinilai sangat baik.
Dengan sangat mengejutkan, pelatih tim junior (yang
sebenarnya juga merupakan pelatih Tim Senior Jawa Barat) mengumumkan bahwa tim
juniorlah yang akan mewakili Jawa Barat dalam Kejuaraan Nasional Bola Basket Putri, bukan tim senior
seperti biasanya. Belakangan diketahui bahwa tim senior mengalami masalah
internal, sehingga mereka menolak untuk ikut dalam babak kualifikasi kejuaraan
tersebut. Tapi… babak kualifikasi kan kurang dari sebulan lagi? Apalagi lawan
mereka nanti adalah tim-tim senior dari berbagai provinsi yang tentu saja sudah
sangat berpengalaman dengan usia sekitar 25 tahunan.
Di lain
pihak, Niken, sang mantan ketua OSIS SMA 31 mulai merasa ada yang aneh antara
dia dengan Rei. Akhir-akhir ini Rei sering ingkar janji, suka telat jemput, dan
banyak hal lain yang membebani gadis satu ini. Puncaknya ketika mereka berdua
putus.
--o--
Sebagai
kelanjutan Lovasket, menurutku seri kedua ini tak mampu mengalahkan pesona seri
pertama.
*ini kenapa
kalimat pertama reviewku udah men-judge
yang nggak enak gini sih?*
Ya, novel
ini masih menghadirkan indahnya basket yang mampu membuat pembacanya ketagihan.
Kak Luna masih jagonya menggambarkan permainan basket sehingga membuat
imajinasi terbang manis. Karena memang inilah daya tarik Seri Lovasket, dan
tentu saja Kak Luna harus total di bagian ini.
Untuk seri
kedua ini, ceritanya terasa pecah menjadi beberapa bagian. Makanya pas aku
bikin ringkasan cerita di atas, aku agak kebingungan harus mulai dari mana
dulu. Kalau aku baca-baca lagi justru ringkasan cerita di atas memakai gaya
bahasaku kalau lagi nulis cerpen.
Jadi untuk
review kali ini, aku mau pecah ceritanya jadi tiga bagian: dunia Vira, dunia Stella,
dan dunia Niken.
Untuk dunia
Vira, sejujurnya aku suka karena di sinilah konflik utama mengalir. Menurutku
konfliknya jelas, nggak ruwet, dan punya alur sebab-akibat yang mengalir
lancar. Walaupun aku agak kecewa karena entah kenapa Kak Luna nggak membahas
hubungan antara Vira dan Aji, bahkan sejak seri pertama. Tahu-tahu jadian tanpa
alasan yang jelas, eh ini putus gitu aja juga tanpa hujan badai halilintar.
Jadi hubungan mereka berdua cuma buat nambah-nambahin cerita aja. *kesimpulan
yang kejam*
Tapi serius,
kalau hubungan mereka dibikin jelas sebenarnya mereka itu ngapain, mungkin akan
ada satu bintang tambahan untuk novel ini.
Untuk dunia
Stella, menurutku bagian ini adalah bumbu yang manis untuk novel kedua seri
Lovasket. Aku jadi tahu kalau Stella sebenarnya tertutup (woy, kayaknya di seri
pertama Stella digambarkan gaul deh. Buktinya dia bisa mendapatkan Robi dengan
mudah, menebar pengaruh ke seluruh anggota tim basket dengan mudah, dan
menuntut kepemimpinan dengan mudah deh. Ini kenapa karakternya mendadak
diubah?). Oke, sebenarnya perubahan karakter Stella yang membabi buta ini juga
merupakan salah satu kecacatan seri kedua. Tapi bagaimana konflik yang dialami
Mama Stella ini diolah oleh Kak Luna berhasil membuatku penasaran.
Untuk dunia
Niken, it’s the worst part, I think. Why?
Karena bagian ini pecah banget dari dunia Vira yang jadi akar utama. Jadi novel
ini kesannya kayak menceritakan dua dunia yang berbeda, dan si Niken ini
mendadak jadi tokoh utama dalam beberapa kesempatan. Aku berusaha untuk nggak
bikin spoiler di sini, jadi aku nggak
bisa kasih tahu bagian apa yang bikin alur sebab-akibat si Niken ini agak
berantakan. Kalau aja “sebab”nya disinggung di awal, mungkin akan terjadi
penyelarasan.
*kejam*
Duh, sayang
banget cuma bisa kasih dua bintang buatmu, nak. Semoga seri ketiga aku bisa
kembali kasih empat, atau bahkan lima bintang.
Review Seri Lovasket:
Lovasket, #1
Lovasket, #2
Lovasket, #3
Review Seri Lovasket:
Lovasket, #1
Lovasket, #2
Lovasket, #3

Great read thank youu
ReplyDelete