Thursday, May 16, 2013

[Review] Lovasket - Luna Torashyngu


Judul: Lovasket

Series: Lovasket, #1

Penulis: Luna Torashyngu

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tanggal terbit: Juni 2007

Jumlah halaman: 312

Rating: êêêê




Savira Priskila adalah salah satu siswa SMA Altavia, SMA swasta termewah di Bandung. Bersama gengnya, The Roses, ia menjadi cewek paling berpengaruh di SMA tersebut. Apalagi ditunjang dengan kekayaan ayahnya yang merupakan direktur Bank Central Buana, dan hubungan dekatnya dengan Robi yang merupakan anak dari pemilik Yayasan SMA Altavia. Dia juga atlet basket SMA tersebut dan telah menyabet gelar top scorer dan most valuable player di ajang kompetisi basket SMA se-Jawa-Bali. Kurang apa coba?

Nah, masalah dimulai ketika ayah Vira dituduh melakukan tindak korupsi. Seluruh kekayaannya, sampai baju-bajunya, disita oleh pihak kejaksaan. Ia dan ibunya harus pindah ke rumah kecil di perumahan sederhana sambil jualan lotek untuk menyambung hidup. Tak cukup sampai di situ, Robi, pacarnya, tega memperlakukannya sebagai sampah. Stella, temannya di The Roses juga memperlakukannya dengan sadis demi memeroleh kaus emas basket SMA Altavia. Puncaknya adalah ketika ia dikeluarkan dari SMA Altavia karena kasus ayahnya dianggap telah mencoreng nama sekolah.

Akhirnya ia pindah ke SMA 31 Bandung, SMA pinggiran dan tak terlirik sama sekali. Di sana, ada satu masalah yang membelit siswa-siswinya. Kepala sekolah berencana akan menghapus separuh dari jumlah kegiatan ekstrakulikuler agar tidak boros biaya. Semua siswa yang ikut ekskul jelas kalang kabut dibuatnya, termasuk siswa yang ikut ekskul basket. Mengingat ekskul itu tidak pernah mencetak prestasi, mereka pun ketar-ketir.

Niken, sang ketua OSIS, melihat kemampuan Vira sebagai pemain basket berbakat. Niken pun mengajak Vira untuk bergabung dengan tim basket SMA 31. Sayangnya, Vira nggak mau. Katanya basket bisa membangkitkan kenangan buruknya tentang sekolah lamanya.

“…dan gue nggak mau lo juga dirusak hal-hal kayak gini. Terus terang, gue sedih waktu lo keluar dari Altavia. Lo satu-satunya harapan gue untuk menjaga kehormatan tim basket kita. Walau sikap lo di sekolah kadang-kadang egois dan suka seenaknya, tapi gue percaya lo masih menjunjung nilai-nilai sportivitas dalam olahraga. Gue juga selama ini nggak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kelakuan Robi. Tapi kali ini, gue nggak bisa tinggal diam. Robi udah kelewatan dan merusak kehormatan tim basket cewek Altavia,”

--o--

Ceritanya klise. Bahkan ending tentang nasib tim basket SMA 31 dan SMA Altavia pun sebenarnya udah ketebak sejak aku baca sinopsis yang ada di belakang buku. Kenyataan kalau novel ini berserilah yang agak bikin penasaran: gimana ending buku terakhirnya ya?
*malah mikirin ending buku terakhir*

Tapi ada satu hal yang berhasil bikin novel ini terselamatkan: cara Luna Torashyngu bercerita entah kenapa bikin aku nggak bosan-bosannya, justru pengen baca terus-terusan. Nuansa basket yang disuguhkan pun punya nilai plus sendiri. Entah kenapa aku jadi bisa bayangin keadaan di lapangan. Ya sebagai orang yang sedikit tahu tentang basket, aku cukup menikmati narasi yang disajikan Luna.

Tapi untuk beberapa hal, ada kekurangan dalam novel ini yang agak “gimana” gitu.

Pertama, untuk masalah penghapusan ekskul. Ini agak aneh. Kepala sekolahnya tega amat sih -,-. Terus ngomong-ngomong, kayaknya pramuka itu dimana-mana udah jadi ekskul wajib deh. Walaupun yang ikut cuma sedikit, ekskul yang satu ini tetap wajib, soalnya udah ada peraturannya (peraturan apa aku nggak hapal sih yang jelas emang ada peraturannya). Terus seriusan sekolah ini nggak ada PKS (Petugas Keamanan Sekolah)nya? Duh, kere bener nih sekolahan.

Kedua, untuk masalah papa Vira yang tersangkut kasus korupsi. Kalau semua tersangka koruptor mendadak dimiskinkan seektrem papa Vira, kayaknya Indonesia bisa bebas korupsi dalam waktu singkat deh. Sayangnya di Indonesia, para tersangka koruptor cuma dimiskinkan sekian belas persen aja dari semua kekayaannya. Nah, kalau di novel ini? Pemiskinannya berlebihan. Masak sampai banyak baju mahal yang ikut disita? Emang baju kalau dijual laku ya?
*ini kenapa ngelantur*

Adegan cinta-cintaan di sini nggak banyak. Hanya untuk bumbu penyedap di akhir bagian. Terus ending nya juga bikin penasaran. Pengen buruan ngacir ke Lovasket 2 sih, tapi masih nunggu antrian T_T

Aku juga bingung, selama ini aku jarang kasih bintang di atas tiga untuk teenlit. Ini kenapa tiba-tiba ada empat?
Tapi yang jelas, untuk ukuran cerita seklise ini, Luna pintar mengolah ceritanya. Recommended buat teman-teman pecinta teenlit yang nggak kebanyakan cinta-cintaan.


Review Seri Lovasket:
Lovasket, #1
Lovasket, #2
Lovasket, #3

2 comments:

  1. Anonymous8:58 PM

    aku pecinta Lovasket... 1-3 udah baca...
    tinggal yang ke-4 ini yang belum sempet baca...
    eh, lebih tepatnya belum sempet beli, hehe.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo anonim, kayaknya kita sehati deh :3
      aku juga blm beli yang ke 4

      Delete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...