Tuesday, January 2, 2018

Mengungkap Sejarah Indonesia dalam "Pulang"


Dimas Suryo, seorang eksil politik tahun '65, merasa berhutang nyawa pada Hananto Prawiro. Jika saja saat itu Hananto tidak meminta Dimas untuk menggantikannya mengikuti konferensi jurnalis internasional di Santiago, mungkin saat ini Dimas sudah ditangkap dan dieksekusi karena ia dan Kantor Berita Nusantara yang dianggap "kiri". Konsekuensinya, Hananto yang diburu dan akhirnya dieksekusi beberapa tahun kemudian. Sebagai eksil politik, ia tidak pernah bisa pulang ke Indonesia. Ia terdampar di Paris; bersama Tjai, Mas Nug, dan Risjaf, membangun Restoran Tanah Air; menikah dengan Vivienne Deveraux dan memiliki anak bernama Lintang Utara. Di sisi lain, ia tahu bahwa kisahnya bersama Surti Anandari mungkin belumlah usai. Surti, istri Hananto, pernah menjalin hubungan dengannya. Bahkan Kenanga, Bulan, dan Alam, anak-anak Surti dan Hananto, menggunakan nama yang dulu mereka sepakati sebgai nama anak mereka kelak.

Lintang Utara hidup di generasi berbeda. Dosen pembimbing tugas akhirnya menolak usulan film dokumenternya, dan menyarankannya untuk mengangkat masalah politik Indonesia sebagai tema tugas akhir. Ini akan menjadi hal yang sulit. Indonesia adalah tanah air yang tidak pernah dikenalnya. Ia hanya mendengar negeri itu dari mulut ayahnya, teman-teman ayahnya. Hanya dari satu sudut pandang saja. Maka muncullah ide itu: ia harus terbang ke Indonesia; tanah air yang begitu asing, yang terasa begitu jauh, yang entah apa yang akan terjadi ketika ia sampai di negeri itu. Namun, seperti korespondensi semesta, ia memilih untuk tiba di Indonesia pada waktu itu, Mei 1998.

Katakan, apakah sebatang pohon yang sudah tegak dan batang rantingnya menggapai langit kini harus merunduk, mencari-cari akarnya untuk sebuah nama? Untuk sebuah identitas?

Pulang adalah cerita tentang menentukan pilihan. Sebuah cerita tentang arti pulang yang sebenarnya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Aku selalu tertarik dengan historical fiction, walaupun genre ini termasuk jarang kubaca. Namun, hai, cerita dengan melibatkan latar dua peritiwa penting di Indonesia -Gerakan 30 September 1965, kerusuhan Mei 1998, ditambah Revolusi Prancis 1968-, siapa yang akan menolak membaca buku ini? Pulang sudah menjadi wishlistku sejak lama, dan baru kali ini aku berkesempatan untuk menjelajahi sejarah Indonesia bersamanya.

Pulang menyuguhkan cerita yang menarik kepada pembacanya: tentang sisi lain sejarah 30 September 1965, tentang bagaimana korban politik bertahan hidup di tengah diskriminasi yang dilakukan oleh rezim yang berkuasa pada masa itu, tentang bagaimana dampak sejarah itu pada para tokoh, pun tentang drama keluarga dan romantisme yang begitu memikat. Tak hanya berhenti di sana, Pulang memanjakan para penikmatnya dengan bahasa yang mudah dipahami dan sarat kosakata yang indah, dengan turut mengutip beberapa karya sastra seperti Chairil Anwar, T.S. Elliot, George Orwell; jelas menambah romantisme cerita menjadi kian manis.

Siang ini, kami akan memberi penghormatan terakhir pada para mahasiswa yang tertembak kemarin. Suatu peristiwa yang semoga tak dilupakan oleh generasi masa kini.

Mengangkat peliknya sejarah Indonesia dan Prancis dan manisnya karya sastra dan cerita wayang jelas merupakan sebuah formula yang unik, terutama bagiku yang jarang membaca hal-hal seperti ini -walau aku menyukainya-. Aku bukan seorang pengikut cerita wayang yang baik, namun cerita-cerita  penulis tentang Ekalaya dan Bima jelas membuatku menyukainya.

Diceritakan dari berbagai sudut pandang -Hananto, Dimas Suryo, Lintang Utara, Alam (anak Surti), Bimo (keponakan Dimas), serta sudut pandang orang ketiga-, membuat novel ini berimbang dan pembaca diajak melihat dari berbagai sisi. Sayangnya, sebagai pembaca yang lebih nyaman dengan sedikit sudut pandang saja, aku agak terganggu dengan hal ini karena pada beberapa bagian aku dibuat bingung. Apalagi dengan banyaknya tokoh yang penulis hadirkan, aku sempat bingung tentang siapa-anak-siapa dan siapa-bapak-siapa. Sementara itu, untuk alur, penulis menggunakan alur maju mundur. Pembaca diajak untuk berjalan-jalan melintasi waktu, berjalan ke masa kini untuk kemudian kembali ke masa lalu. Aku menyukainya.

Aku berharap Pulang akan menjadi sebuah historical fiction yang menarik, namun sepertinya aku melupakan kemungkinan adanya historical romance di sini. Dan, yah, aku kurang suka his-rom karena, menurutku, formula ceritanya kurang lebih akan sama. Aku menyayangkan porsi romansa yang menurutku memakan jatah yang terlalu banyak. Aku sendiri tipe pembaca yang tidak suka dengan tema cinta segitiga atau hal-hal sejenis, sehingga aku agak terganggu dengan banyaknya kisah cinta segitiga dalam Pulang.

Selebihnya, aku sangat menyukai Pulang. Sekali lagi, menjodohkan sejarah dan karya sastra adalah sebuah formula yang unik, menjadikan cerita ini memiliki sisi pahit dan manis sekaligus.

Tokoh-tokoh dalam cerita ini juga, menurutku, memorable, terutama Dimas Suryo. Dengan penceritaan lewat beragam sudut pandang, pembaca seakan diajak untuk meilhat karakter yang satu ini juga dari berbagai sudut pandang. Sisi baik dan buruknya diceritakan secara berimbang, membuatnya tampak seperti "manusia" pada umumnya. Berbeda dengan Lintang, aku melihatnya sebagai manusia yang serba sempurna.

Banyak ilmu baru yang kudapat dari cerita ini. Terutama tentang asal usul istilah ET (Eks Tapol-Tahanan Politik). Pada masa pemerintahan Orde Baru, muncul kebijakan Bersih Diri, Bersih Lingkungan. Bersih Diri dikenakan pada seseorang yang terlibat dalam G30S, anggota PKI, atau anggota organisasi sejenis. Sedangkan Bersih Lingkungan dikenakan pada anggota keluarga dari orang yang dicap komunis. Kebijakan ini dikeluarkan oleh pemerintah lewat Departemen Dalam Negeri, di mana pada saat itu Eks-Tapol (mereka yang ditangkap karena berhaluan politik kiri/komunis, baik sebagai anggota, atau simpatisan) beserta keluarganya dilarang untuk bekerja di sektor BUMN, TNI/POLRI, guru, pemuka agama formal, atau pekerjaan lain yang dianggap dapat mempengaruhi masyarakat. Untuk memastikan pelaksanaan kebijakan ini, pada Eks-Tapol diberi cap ET di KTP mereka. Kebijakan ini jelas menyebabkan diskriminasi pada pada eks-tahanan politik yang sebenarnya belum tentu bersalah, juga pada orang-orang yang tidak tahu menahu tentang aktivitas eks-tahanan politik tersebut seperti anak, istri, dan keluarga mereka. Mereka kesulitan memperoleh pekerjaan, dikucilkan dari masyarakat, dan sanksi sosial yang beragam lagi macamnya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di dalam bahasa Prancis, secara harafiah tentu istilah le coup de foudre saja berarti halilintar atau petir. Tetapi jika dua pasang mata besirobak hingga membuat detak jantung berhenti, maka le coup de foundre berurusan dengan emosi (yang bisa membahayakan keseimbangan jagad): jatuh cinta pada pandangan pertama.
Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
ISBN13: 9789799105158
Jumlah halaman: 464
Tanggal terbit: 4 Desember 2012
Tanggal baca: 1-2 Januari 2018
Baca di: iPusnas

Buku ini, jelas, sangat kurekomendasikan bagi kalian yang meggemari historical fiction, atau sekedar ingin mencoba genre ini. Cerita ini begitu manis sekaligus pahit dalam satu gigitan; sebuah pengalaman dramatis sembari meraup ilmu tentang masa kekuasaan Orde Baru.


Rating:
⭐⭐⭐⭐

Kamu sudah membaca buku ini? Bagaimana menurutmu?


8 comments:

  1. Interesting mbak.. cerita-cerita kaya gini favoritnya suamiku nih..
    Reviewnya juga keren, ga bikin bosen bacanya ;)

    ReplyDelete
  2. review yg bagus mba, tq infonya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you 😊😊😊

      Delete
  3. Jadi penasaran baca bukunya mbak. Aku suka membaca buku seperti ini, karena bisa mudah mempelajari tentang sejarah yang biasannya buku-buku sejarah sangat membosankan dan menoton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Worth to read mbak, bagus πŸ‘

      Delete
  4. wah aku baru nemu blog ini seneng banget ada blog yang berisikan sinopsis2 dan referensi buku jadi sebelum membaca ada gambaran.. makasih sharingnya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mbak. Makasih jg udah berkunjung

      Delete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...