Friday, May 10, 2013

[Review] Kabut Perang - Ayi Jufridar



Judul: Kabut Perang

Penulis: Ayi Jufridar

Penerbit: Universal Nikko

Tanggal terbit: Januari 2010

Jumlah halaman: 358

Rating: 2/5



Tasrif, seorang pemuda tanggung, mendadak syok setengah mati mengetahui rumahnya terbakar dalam serangan tentara nasional. Tapi keterkejutannya tak berakhir sampai di situ. Ia menemukan ibu, abang, dan kakaknya meninggal dengan kondisi amat sangat mengenaskan.

Dan lihatlah ia sekarang, berada di antara para gerilyawan yang menginginkan kemerdekaan dan lepas dari cengkeraman republik yang selama ini menaungi provinsi mereka.

Dalam perang, Tasrif akhirnya bertemu dengan banyak karakter dengan watak masing-masing. Pemimpin yang perlente dan banyak membual pada wartawan, Faris yang bersahabat dekat dengannya namun tak bisa diajak diskusi, Ali Bopeng yang serakahnya ampun-ampunan, dan beberapa pengkhianat.

--o--

Loh, Wen, kok ringkasan ceritanya cuma segitu doank?
Ya, selama kalian nggak mengharapkan spoiler sih, ceritanya emang cuma gitu aja.

Ceritanya amat sangat sederhana. Tentang perjuangan para gerilyawan dalam merebut kemerdekaan, alias gerakan separatis. Nggak, Tasrif nggak mau kalau kelompoknya ini disebut gerakan separatis. Dia mengaku gerakan itu adalah gerakan yang menginginkan kemerdekaan. Tapi dia sendiri tak seyakin teman-temannya bahwa mereka akan memeroleh kemerdekaan yang mereka inginkan. Ia bahkan belum mantap dengan tujuannya ikut gerakan ini. Beberapa kali aku ngotot kalau dia ikut gerakan ini atas nama dendam akan kematian seluruh anggota keluarganya, tetap si Tasrif selalu menolak kengototanku.

Meski tak diungkapkan secara gamblang dalam novel ini, aku (dan beberapa pembaca) pasti tahu kalau yang dimaksud Ayi di sini adalah Aceh. Ya, jaman-jaman GAM dulu lah. Waktu berita tentang GAM sedang ramai di TV, aku masih ingusan, makanya aku nggak paham konflik itu seperti apa.

Baca buku ini rasanya kayak baca buku nonfiksi. Isinya 98% narasi, 1% dialog, dan 1% terdiri dari ucapan terima kasih, profil penulis, dan iklan. Jadi yang diekspos di sini cuma isi pikirannya Tasrif aja. Mulai dari pikiran yang penting sampai pikiran yang ngelantur ke mana-mana.

Banyak hal yang bisa aku dapatkan dari novel ini, mirip-mirip rasanya kayak kita habis baca buku nonfiksi tentang masa-masa kelam Aceh. Dari beberapa pikiran Tasrif ini, semuanya tampak nyata dan dekat, seakan-akan semuanya emang pernah kejadian.

Ada hal yang amat sangat fatal dalam novel ini: typo, penggunaan EYD yang kacau, dan stuktur kalimat yang ambigu. Nah, yang aku sebutin pertama adalah kesalahan yang paling banyak terjadi. Dan FYI kali ini aku baca versi cetaknya (bukan ebook) sehingga kesalahan ini makin fatal aja (kalau aku baca versi ebook kan kemungkinan besar kesalahan itu hasil kelakuan yang bikin ebook). Buku ini belum tersentuh tangan editor kali ya? Atau penerbitnya emang semacam self publishing yang nggak mau ngedit secara teliti dan presisi? Entahlah, yang jelas kesalahan ini fatalnya luar biasa.

Tak ada yang hitam pekat di dunia ini. Begitu pula dengan yang putih bersih. Semuanya selalu abu-abu. Sebagai pihak yang salah, kita tidak selalu salah. Sebagai pihak yang benar, belum tentu kita selalu bebas dari dosa. Hal inilah yang ditonjolkan Ayi dalam karyanya yang satu ini. Entah mengapa hal ini terasa begitu nyata dan dekat dengan kita.

Bukan, buku ini bukan jelek sampai-sampai aku kasih 2 bintang aja. Aku justru pengen rekomendasiin buku ini buat para pecinta fiksi dengan latar belakang sejarah J

2 comments:

  1. wen ada ebook ttg novel ini? klo ada d share dong tau krm ke email ane.. asimh

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak tahu ._. aku bacanya cetak hehehe

      Delete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...