Saturday, April 30, 2016

[Review] Romansick - Emilya Kusnaidi

Judul: Romansick
Penulis: Emilya Kusnaidi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020312781
Jumlah halaman: 280
Tanggal terbit: 5 Februari 2015
Tanggal baca: 28-30 April 2016
Rating: 3/5 [?]

She's in love with her bestfriend. But he's already taken. Since forever.
Romansick, hal. 19


Her life was almost perfect. Pekerjaan sebagai editor di majalah fashion ternama, rekan kerja yang baik hati meskipun doyan gosip, serta dua sahabat cowok yang selalu ada ketika dibutuhkan. So what a girl could ask for more? Well, please underline the ‘almost’ part.


Audrey ‘Dre’ Kahono jatuh cinta setengah mati dengan Eren,sahabatnya––namun nggak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan hal itu. Sebuah pengakuan mendadak dari Eren membuatnya terseret dalam insiden penuh kesialan yang berujung pada serentetan drama baru; pertemuan tanpa sengaja dengan Austin yang moody setengah mati, insiden di pelataran parkir, dan belum lagi soal liburan ke Bintan yang mendadak namun berakhir mengejutkan!

Thursday, April 21, 2016

Bangkitlah, Kartini-Kartini Muda!

source
"Aku tiada hendak melihat, tetapi mataku tinggal terbeliak juga, dan pada kakiku ternganga jurang yang dalam sedalam-dalamnya, tetapi bila aku menengadah, melengkunglah langit yang hijau terang cuaca di atasku dan sinar matahari keemasan bercumbu-cumbuan, bersenda gurau dengan awan putih bagai kapas itu; maka dalam hatiku terbitlah cahaya terang kembali! (kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Januari 12, 1900.)" 
 R. A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, Balai Pustaka, 2005

Bangkitlah, Kartini-Kartini muda! Bangkitkan api di dalam dadamu. Dunia menantikan keprigelan tangan-tanganmu, tangan-tangan yang kan mendorong negerimu menari di kancah bumi.

Bangkitlah, Kartini-Kartini muda! Teriakkan suara yang beratus purnama kamu pendam di balik bibirmu. Karena bumi ini percaya, suaramu kan mengaum menggertarkannya.

Selamat Hari Kartini
21 April 2016

Wednesday, April 20, 2016

Wishful Wednesday [13]: The Chronicles of Audy

Kata orang, tiga belas itu angka sial.

Aku nggak percaya. Tapi aku percaya kalau aku nggak pernah suka berurusan dengan angka tiga belas. Dulu, waktu SD, kaos seragam olahragaku bernomor punggung 13, dan nilai mata pelajaran olahragaku waktu SD kmprt banget sampai pernah menyentuh angka 67/100. Aku pernah dapet nomor absen 13, dan waktu itu aku nggak dapet rangking 1 setelah beberapa semester membabat habis gelar bergengsi pada jamannya tersebut.

Sekarang, bahkan dalam dunia perbloggerbukuan, aku harus menunggu satu setengah tahun untuk mengepost Wishful Wednesday, yang ke tiga belas.

Bukan, sebenarnya bukan salah angka tiga belasnya. Kemampuan olahragaku waktu SD memang mengecewakan setengah mati, tapi untung saat aku kuliah sekarang fisik dan kemampuan lariku udah jauh lebih membanggakan. Dan, hai, waktu aku menduduki nomor absen tiga belas, ada anak pindahan di kelasku yang jelas lebih pintar dariku (yang dua semester kemudian berhasil kembali kukalahkan nilai rapornya wkwkwk). Lalu, aku kehilangan akses terhadap emailku dan akun googleku dan, tentu saja, blog ini, jadi aku nggak bisa ngepost apapun setahun ++ belakangan.


Jadi, bolehkah aku kembali merajut mimpi?

[Review] The Truth about Forever - Orizuka


Judul: The Truth about Forever: Kabencian Membuatmu Kesepian

Penulis: Orizuka

Penerbit: Gagasmedia

ISBN13: 9797806243

Jumlah halaman: 312

Tanggal terbit: 30 April 2013 (2008 dengan cover lama)

Tanggal baca: 19-20 April 2016

Rating: 4/5

"Bukan, gue dari sana," Yogas menunjuk ke atas lagi. "Dari Mars."

Tuesday, April 19, 2016

[Review] 8... 9... 10... Udah Belom?! - Laurentia Dermawan



Judul: 8... 9... 10... Udah Belom?!

Penulis: Laurentia Dermawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN13: 9789792239072

Jumlah halaman: 208

Tanggal terbit: Juli 2008

Tanggal baca: 16-17 April 2016

Rating: 2/5

Saturday, April 16, 2016

[Review] Separuh Bintang - Evline Kartika


Judul: Separuh Bintang

Penulis: Evline Kartika

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN13: 978979245455

Jumlah halaman: 320

Tanggal terbit: Mei 2009

Tanggal baca (ulang): 15-16 April 2016

Rating: 4/5

“Gadis itu berdiri mematung di hadapan makam ibunya. Peti sudah bergerak turun memasuki lubang makam. Tapi gadis itu tetap tidak menunjukkan apapun. Hanya diam... diam... dan diam saja. Seakan tak ada seorang pun di sekelilingnya.”

Friday, April 15, 2016

[Review] Secret Admirer - Karizza Rakmavika

Judul: Secret Admirer

Penulis: Karizza Rakmavika

ISBN13: 9797805980

Penerbit: Gagasmedia

Jumlah halaman: 196

Tanggal terbit: Oktober 2012

Tanggal baca (ulang): 14 April 2016

Rating: 2/5

"Aku sengaja tidak memberi tahu bahwa aku tahu dirimu siapa karena aku ingin menemuimu dengan keadaan seperti ini." (page 174)

Thursday, April 14, 2016

A Guest Post: Graeme Taylor, Author of Time Has Past

Dear, reader of Widy Bookie :))
As you can see, I haven’t write on this blog for such a long time lol. Something happened with my email, and this blog, and I have just repair it. If you wanna read something about the one year-missing of me, you can read them ini my personal blog, widywenny.blogspot.com. But, ya, they are written in Bahasa.

So, you wonder why I write this post in English?
Today, I will post a guest post from Graeme Taylor. He is the author of My Poetry ‘What I Wrote’ (you can find it in Amazon UKand Time Has Past (you can find it in Amazon UK).

If you wanna know more about him, let’s get started!


Graeme Taylor 

My Writing, My Novel
I think, like a lot of people, I always thought that I would love to write a novel. It eventually happened, although I did wait until I was in my fifties to make it happen. I don't know where I got the idea from to write a Fictional Story based on Historic events, it just seemed to pop into my head.

Thursday, February 5, 2015

[Review] Petir - Dee



Judul: Petir
Seri: Supernova, #3
Penulis: Dee
ISBN13: 9786028811736
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 286
Tanggal terbit: April 2012
(pertama terbit tahun 2004)
Tanggal baca: 2-3 Februari 2015

"Petir itu terjadi kalau atmosfer tidak stabil. Panas bumi membuat udara di permukaan jadi panas dan udara panas ini bergerak naik, terus, teruuus. Lalu, mereka berkelompok di sekitar udara yang lebih dingin, sampai terbentuklah awan kumulonimbus, yang di dalamnya ion positif negatif bergumul, bergumul, jadi kekuatan listrik yang besar, kemudian--BUM!" 

Elektra Wijaya, seorang sarjana dengan masa depan suram yang tinggal bersama Dedi (dari kata Daddy), pemilik usaha Wijaya Elektronik dan Watti, kakaknya. Ibunya meninggal ketika Elektra masih kecil. Babak baru dalam hidupnya terjadi ketika Dedi meninggal karena serangan stroke, sementara Watti menikah dan harus ikut suaminya ke Tembagapura, Papua. Kini tinggallah Elektra sebatang kara menghuni Eleanor, rumah besar berarsitektur Belanda milik ayahnya, dengan setumpuk urusan administrasi Wijaya Elektronik dan fakta bahwa banyak piutang yang tak tertagih.

Di tengah kesebatangkaraan dan keputusasaannya, datanglah sebuah surat dari STIGAN, Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional, yang memintanya untuk menjadi asisten dosen di sekolah tinggi tersebut. Surat macam apa ini? Bahkan Elektra tidak merasa memiliki keahlian apapun dalam bidang keilmugaiban. Ia lantas merasa diawasi setiap saat. Elektra pun kemudian datang ke tempat seorang dukun. Tak disangka, Elektra justru menyetrum dukun tersebut! Tak sampai di situ saja, ia sempat membuat semacam tarian pemanggil petir sampai sebatang pohon asam tersambar petir dan terbakar dengan begitu menyedihkan.

Gadis itu akhirnya bertemu Ibu Sati, seorang paranormal keturunan India yang dapat bermeditasi sampai badannya melayang! Dan dari Ibu Satilah Elektra akhirnya menemukan keahliannya.

Masa depannya yang suram lantas minggat entah kemana saat Ibu Sati memberinya ilham untuk membuat warnet di tubuh Eleanor. Bersama Mpret dan Kewoy, akhirnya Elektra mengubah Eleanor menjadi warnet, rental PS, home theater, distro, sekaligus warung makan.

Dan klinik pengobatan.

"Setelah kamu paham betul itu, sadar bahwa keterpisahan hanyalah ilusi maka kamu juga bisa lepas dan eksklusivisme yang selama ini memisahkan manusia dengan alam. Kita tidak memiliki apa-apa, Elektra. Kita hanya peminjam yang terpikir bahwa kita ini pemilik. Lucunya, ketika kita bersikap eksklusif, kepemilikan kita sangat terbatas. Sementara kalau kita sadar semua ini cuma titipan, mendadak kita bisa mendapatkan apa saja."

--o--



Karena aku sudah membaca KPBJ dan Akar yang membuatku sukses garuk-garuk kutu di kepala saking beratnya bahasan kedua novel tersebut, aku membuka halaman pertama Petir dengan sebelumnya mempersiapkan kapasitas otak yang cukup. Maksudku, dengan sangat sok tahu, aku berpikir bahwa Petir juga akan jadi bacaan yang berat dan memaksa otak memanggil kembali memori mata pelajaran masa SMA-ku. Namun ternyata, taraaaaa, kejutan, aku malah dibuat ngakak terjungkal-jungkal gara-gara baca buku ini. Selamat tinggal ilmu pengetahuan!

Sebelum memulai kisah bersama tokoh utama Petir, pembaca dipertemukan kembali dengan Ruben dan Dimas, dua karakter yang ada pada buku pertama, KPBJ. Surel dari Gio yang mencantumkan "Supernova" menghidupkan lagi keduanya. Selanjutnya cerita beralih kepada Elektra, sang tokoh sentral dari Petir.

Diceritakan dari sudut pandang Elektra Wijaya, novel ini terasa berbeda dengan seri Supernova yang lain. Bahasanya segar dan sangat menghibur. Karakter Elektra yang polos, membumi, nyunda dan apa adanya digambarkan dengan sangat baik. Cara bercerita Elektra ini membuatnya menjadi karakter yang memorable, berciri khas dan tentu saja unik. Hal ini membuat Petir istimewa dibandingkan pendahulu-pendahulunya karena pembaca tak perlu memutar otak terlalu keras.

Bagian yang membuatku sangat terhibur adalah pertemuan pertama Elektra dengan internet (dan teknologi lainnya). Aku kembali ingat pada masa-masa di mana pertama kali aku mengenal internet, mungkin sama noraknya dengan cewek ini. Herannya, kalimat paling remeh pada bagian ini pun membuatku terjungkal-jungkal menahan tawa. Selera humorku dalam bahaya 😅

Walaupun menggunakan gaya penceritaan yang ringan, Petir juga menghadirkan berbagai pelajaran hidup, terutama tentang filsafat dan spiritual. Pelajaran hidup yang sebenarnya berat ini dihidangkan dengan cara berbeda, menyebabkan buku ini terasa unik.

Di akhir cerita, muncul sosok Bong, teman Bodhi yang muncul di episode Akar - yang ternyata adalah sepupu Mpret. Hubungan antara tokoh-tokoh dari buku lain ini memang belum terungkap pasti, namun kemunculan-kemunculan ini justru membuatku penasaran tentang apa sebenarnya hubungan mereka dan apa yang sebenarnya terjadi.

Ya, walaupun sebenarnya agak gimana gitu karena di balik karakter Elektra yang nyeleneh aku sempat mendesah "ah, gini doang?", tapi aku tetap menyukai Petir. Karakter yang kuat dan beda dari episode lain yang berat membuat buku ini unik.

Rating:
⭐⭐⭐

src

Kamu udah baca Petir? Menurutmu gimana?

Tuesday, February 3, 2015

[Review] Entrok - Okky Madasari

Judul: Entrok

Penulis: Okky Madasari

ISBN13: 9789792255898

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 282

Tanggal terbit: 5 April 2010

Tanggal baca: 30 Januari - 1 Februari 2015

Rating: 5/5




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...