Penulis: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit: April 2010
Jumlah halaman: 240
Rating: êê궶
Fraya, ketika berusia enam tahun, memulai kecintaannya pada
bulutangkis ketika Tante Wenny (ntar deh, kayaknya nama ini familiar banget ya
-,-) dan Tante Sissy heboh sendiri saat menonton pertandingan Ricky Subagja
dalam Olimpiade Atlanta 1996 lewat layar kaca. Sejak saat itu, Fraya bertekad
untuk menjadi atlet bulutangkis. Sayangnya, sang mama melarangnya masuk klub. Maka
kandaslah impian Fraya itu.
Dua belas tahun berlalu. Fraya menjalani hobinya hanya lewat
ekstrakulikuler sekolah yang, ya tahu lah, stagnan dan gitu-gitu aja. Apalagi
dia punya pacar, Albert, yang nggak suka dengan hobi bulutangkisnya ini. Si
Albert malah lebih bahagia kalau Fraya jadi anggota cheers. Katanya biar bisa
nyemangatin dia kalau lagi main basket.
Nah, saat itulah digelar perhelatan akbar cabang olahraga
bulutangkis, Thomas dan Uber Cup. Bahagianya lagi, pagelaran tersebut diadakan
di Istora Senayan, jadi Fraya bisa nonton dengan nyaman. Tapi suatu hari karena
Fraya bela-belain bohongin Albert demi nonton Uber Cup, dia dihukum pacarnya
itu. Faya nggak boleh nonton Thomas dan Uber Cup lagi!
--o--
Novel bertema olahraga keempat yang kubaca setelah Lovasket1, Lovasket 2, dan Lovasket 3. Jadi ya, entah demi apa, aku terpaksa
membanding-bandingkan Badminton Freak dengan Lovasket.
Aku pikir sebagai sesama novel bertema olahraga, novel ini
akan mirip-mirip dengan Lovasket. Tapi ternyata Badminton Freak berbeda 90 derajat
dengan Lovasket (kenapa cuma 90 derajat? Hanya aku dan Tuhan yang tahu)! Secara
penceritaan, Stephanie Zen lebih memilih menarasikan histeria Fraya terhadap
bulutangkis dibandingkan jalannya pertandingan bulutangkis. Jadi jangan harap
kalian akan menemukan penjelasan tentang apa itu smash, jumping smash, serve, passing, dribble (tunggu, ini kenapa
jadi ngelantur?) dan sejenisnya. Sebaliknya, kalian justru akan dikenalkan dengan
para pemain semacam Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido, Hendra Setyawan, Maria
Kristin, dan… Dan… Greysia Polii! Ya ampun, nggak nyangka bisa ketemu Polii di
sini!
Ya, karena nama-nama di atas emang nama pebulutangkis
betulan, jadi aku merasa ditipu sama Stephanie Zen. Seakan-akan para atlet itu
benar-benar melakukan apa yang tertulis di novel. Alias novel ini nggak rasa
novel, tapi rasa artikel di majalah olahraga. Bukan, bukan karena bahasanya
atau apanya, tapi karena rasanya novel ini nyata banget. Gimana ya, soalnya
tokohnya aja atlet betulan…
Cuma aja aku agak kecewa sama endingnya. Rasanya kok endingnya
gampang banget. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga teenlit. Terus, masalah
Albert, kayaknya terlalu dibuat-buat deh. Kalau aku punya pacar nyebelin kayak
gitu sih, nggak mungkin lah hubungan akan bertahan sampai dua tahun.
Secara keseluruhan, novel ini bagus. Segar. Lagian Stephanie
kayaknya menulis dari hati deh, soalnya di halaman awal doi juga bilang kalau
novel ini ditulis berdasarkan passionnya.
NB: Ah, akhirnya aku menemukan namaku dipakai sebagai nama
tokoh novel. Tapi, kenapa harus dijadiin nama tante-tante sih? -.-

No comments:
Post a Comment
Komentarmu, bahagiaku ^^