Dimas Suryo, seorang eksil politik tahun '65, merasa berhutang nyawa pada Hananto Prawiro. Jika saja saat itu Hananto tidak meminta Dimas untuk menggantikannya mengikuti konferensi jurnalis internasional di Santiago, mungkin saat ini Dimas sudah ditangkap dan dieksekusi karena ia dan Kantor Berita Nusantara yang dianggap "kiri". Konsekuensinya, Hananto yang diburu dan akhirnya dieksekusi beberapa tahun kemudian. Sebagai eksil politik, Dimas tidak pernah bisa pulang ke Indonesia. Ia terdampar di Paris; bersama Tjai, Mas Nug, dan Risjaf, membangun Restoran Tanah Air; menikah dengan Vivienne Deveraux dan memiliki anak bernama Lintang Utara. Di sisi lain, ia tahu bahwa kisahnya bersama Surti Anandari mungkin belumlah usai. Surti, istri Hananto, pernah menjalin hubungan dengannya. Bahkan Kenanga, Bulan, dan Alam, anak-anak Surti dan Hananto, menggunakan nama yang dulu mereka sepakati sebgai nama anak mereka kelak.
