Monday, April 14, 2014

BBI Anniversary Guest Post 2014: Poligami atau Monogami?



Halo dunia, Wenny habis ngerjain soal UTS botani farmasi yang iyuuuh banget nih, makanya baru bisa merombak postingan ini :D
Kali ini Widy Bookie yang kece badai kedatangan tamu loh, siapa tamunya? Pengen tahu aja apa pengen tahu banget? Langsung cek di bawah ya mumumu :*


Tipe Pembaca Buku: Poligami atau Monogami??

Halo, perkenalkan, nama saya Dinoy. Saya adalah pemilik blog buku www.dinoybooksreview.wordpress.com. Karena punya blog buku, ya pastinya saya suka baca buku, dong. Dan kali ini saya akan membahas tentang kebiasaan saya membaca buku. Seperti judul artikel yang saya pilih, maka dengan bangga sekali saya mau bilang kalau saya adalah pembaca “poligami”. Maksudnya gimana, sih? Yeaah, kebiasaan baca saya tuh; suka ninggalin buku pas masih di tengah perjalanan membaca, dan beralih ke buku lain yang kelihatannya lebih menarik. Ini sering terjadi kalau saya merasa tidak nemu kecocokan atau tak nyaman baca buku tersebut. Ya pikir saya, daripada dipaksain mending ditinggal dulu, toh, nanti kalau ada mood baru deh dilanjutin baca buku itu lagi. Sementara menunggu mood-nya datang ya baca buku lain dulu. Hal ini juga erat kaitannya dengan sifat saya yang bosenan. Ho oh banget! Saya tuh gampang bosan (tapi saya rasanya bisa setia kok kalau jadi pasangan hidup) ketika melakukan sesuatu.


Teringat saat kecil, Mama pernah bilang kalau saya sudah suka sama satu baju, baju itu bakal dipakai teruus-terusan, eh tapi ntar kalau udah bosen ya bakal tidak atau jarang dipakai lagi. Haha! (ps: itu zaman masih kecil, bajunya masih lumayan banyak, sekarang sih ya bajunya segitu-gitu doang, hehe. #abaikan). Jadi, ketika saya sudah punya minat akan sesuatu, biasanya saya akan gencar menggeluti dan membahas satu minat tersebut dalam kurun waktu tertentu. Namun ketika menemukan ada cela dalam hal tersebut, biasanya saya bakalan drastis mengurangi atau meninggalkan kegiatan itu. Kembali ke kebiasaan baca. Kebosanan dan kekurangtelatenan saya dalam hal membaca itu kelihatan banget di currently reading di Goodreads. Jadi ya sejak kenal media sosial yang satu ini, saya jadi punya kebiasaan update status lagi baca buku apa, sampai halaman mana, terus mencatat kesan setiap sampai di halaman tersebut. Sisi baiknya, ya jadi ada catatan buat persiapan bikin resensi lengkap. Sisi buruknya, tuh jadi kelihatan betapa kepoligamian saya dalam hal membaca... masa buku yang sedang dibaca sampai ada sembilan buku!! Huahahaha.... Jangan sampai sih ada orang yang salah memuji, “Hebat bener bisa banyak baca buku dalam sekali waktu??”. Enggaaak, yang ada malah kelihatan banget suka mutung di tengah jalan kalau isinya kurang menarik, hihihi, bahkan ada satu buku yang saya terakhir baca di tahun 2012, sudah hampir dua tahun dan belum selesai! Alamaak. #selftoyor

ini aibnya mbak Dini :D


Monogami atau poligami??

Sebaiknya sih memang ketika memutuskan membaca satu buku, ya konsisten membaca itu sampai selesai baru ganti baca buku yang lain. Kenapa? Karena dari situ kita bakalan benar-benar bisa mengikuti runutan ceritanya dengan baik dan nyambung. Kalau bukunya udah nggak menarik, kenapa dong perlu dibaca sampai tuntas?? Mengasah ketelatenan kita juga, apalagi nih kalau kita memang serius ingin menjadikan hobi baca sebagai profesi yang menghasilkan. Nah, ini kerasa banget setelah saya jadi editor dan proofreader. Nggak mungkin, dong, saya meninggalkan naskah yang lagi diperiksa di tengah jalan?? Mau nggak dikasih kerjaan lagi sama si penerbit?? Huhu, jangan sampai, deh. Pernah sih ketika membaca suatu naskah yang saya nggak sreg banget dan bertanya-tanya, kenapa penerbit memilih meloloskan naskah ini sih?? Saya lalu teringat kebiasaan baca buku yang suka terhenti di tengah jalan karena menuruti mood membaca. Lalu saya pun berpikir, di kerjaan ini saya tidak dalam kapasitas bisa pilih-pilih bacaan. Maka membaca buku yang sudah jadi pun rupanya bisa juga menjadi latihan kesabaran dan ketelatenan. Setidaknya, ketika saya menuntaskan buku tersebut meski terseok-seok, saya akhirnya bisa menilai kenapa saya nggak merasa nyaman dengan buku tersebut? Apakah alurnya yang membosankan? Penulisannya yang tidak rapi? Logika ceritanya karut marut, atau apa?? Kalau saya membacanya hanya setengah, mana bisa menilai dengan utuh, kan?

Lalu kenapa masih Poligami??

Oh well, saya tidak mau jadi seperti pepesan kosong, yang hanya berkoar-koar tapi tidak melakukannya sendiri. Ya, sampai sekarang kebiasaan ganti-ganti bacaan sebelum satu buku tuntas itu juga masih ada. Saya berpikir, saya masih bisa membedakan kapan saya bekerja dan kapan saya hanya sebagai pembaca. Saya juga nggak mau membaca buku karena terpaksa, kan niatnya juga penyegaran selain belajar. Namun, sudah ada konsep dalam diri saya bahwa saya HARUS menyelesaikan buku yang saya telah mulai membaca; semembosankan dan sejelek apa pun itu menurut saya. Caranya, ya setidaknya saya selesai baca satu bab, baru boleh ganti baca buku lain yang lebih menarik. Setelah mood-nya lebih enak, balik lagi baca satu bab lagi buku yang masih terdaftar di current read di Goodreads. Begitu deh, sampai satu buku habis baru saya boleh menambahkan satu buku baru lagi sebagai selingan. Haha, kapan kelarnya dong yaa! :)))

Yah intinya sih saya tetap menganggap baca buku sebagai hobi, maka harus menyenangkan. Namun hobi buku itu juga mengandung sebuah tanggung jawab, karena saya juga memilih bekerja sesuai hobi. Kalau mau cari kambing hitam nih ya, kebiasaan poligami membaca ini  semakin menjadi sejak saya juga punya hobi baru; menimbun buku. Gara-gara diskonan, tertarik teman-teman yang menjual buku koleksi pribadinya, atau bahkan kemakan promosi buku sehingga membeli buku baru dengan harga normal. Makanya stok buku pun bertumpuk, padahal waktu membaca bukannya semakin bertambah, tapi malah semakin terdesak dengan kerjaan. Jadinya ya gitu, baca satu buku... bosan di tengah-tengah... lalu melirik timbunan buku yang banyak menarik, ya udahlah comot satu untuk dijadikan pelampiasan dari baca buku yang bosenin tadii....

Jadi, adakah teman-teman di sini yang menganut monogami dalam hal membaca buku? Ada saran yang lebih jitu untuk bikin saya bertobat dari pelaku poligami membaca?? Ditunggu ya sarannya! Hohoho. ^^
                                                                                                                                                                                                        

kayaknya makanannya enak ya mbak *salah fokus*

*Pencurhat*


Dini Novita Sari, panggil saja Dini atau Dinoy. Suka ceriwis di akun Twitter @dinoynovita, tapi katanya sih pendiam kalau ketemu langsung (percaya??). Suka meresensi buku dan bikin kuis-kuis dari jatah kerjaan meriksa naskah, di blog bukunya yang kece badai cetar membahana: www.dinoybooksreview.wordpress.com. Mampir-mampir, yaaa! ^_^



------------------------------------------------------------o----------------------------------------------------------------

Hehehe, habis ini kamu pasti kepoin mbak Dini, iya kan? Iya dong pastinya.
Sebelum kamu kepoin mbak Dini lebih lanjut, kamu boleh banget loh baca interviewku sama mbak Dini. Boleh banget loh, BOLEH BANGET! *Wen -_-*


1.  Tolong dong mbak, perkenalkan diri mbak buat pembaca blogku. Yang lengkap ya, mulai dari nama, umur *eh*, tempat tinggal, pekerjaan, nama pacar *Wen -_-*, ya pokoknya selengkap mungkin deh ya mbak. 

Hehehe. Haloo, nama lengkapku Dini Novita Sari. Aku biasa dipanggil dengan nama depanku, tapi karena nama itu sering dijumpai, haha, maka aku menciptakan nama panggilan lain yaitu Dinoy. Aku saat ini tinggal di sebuah daerah di Jawa Timur yaitu Gresik, dan sedang bekerja secara lepas sebagai pemeriksa naskah. Hm, suka baca buku dari lama, tapi punya hobi tambahan menimbun buku dari sekitar setahun lalu -__- Aku juga suka nulis, dan pernah mendokumentasikan tulisanku di tiga buku: Traveling Note Competition, Get Lost, dan Antravelogi. Cukup deh yaa perkenalannya. ^^ Oh yaa, blog bukuku jangan lupa diintip: www.dinoybooksreview.wordpress.com (mbak kamu kok promosi terus -_-) (digampar)

2.   Ceritain dong mbak bagaimana ceritanya (?) mbak Dinoy jadi suka baca.
Hmmm... *menggali-gali memori* sudah sejak kecil sih yaa, suka baca. Mungkin ini hobi turunan, papa dan mamaku suka baca. Dulu sih selalu ada koran di rumah untuk dibaca. Terus mulai baca komik-komik seperti Donal Bebek, atau serial cantik. Pas di sekolah juga kenal perpustakaan jadi bertambah deh referensi bacaannya. Beranjak remaja, suka baca novel-novel yang dibeli sama kakak. Dia cowok, tapi dia nggak membatasi genre bacaannya. Inget banget, bisa baca dua novel Icha Rahmanti yaitu Beauty Case dan Cintapuccino ya gara-gara koleksi si mas. Lalu ada satu novel yang bener-bener menginspirasiku dan kubaca saat SMU, yaitu Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dee, ya karena kakak yang beli dan aku nebeng baca. Hehehe. Makin dewasa, sudah punya penghasilan sendiri ya jadi makin banyak bacaannya karena bisa beli buku sendiri. ^^.


3.  Buku kayak gimana sih yang mbak dinoy sukai? Apa ada buku tertentu yang nggak bisa mbak lupakan sampai sekarang saking bagusnya? Terus ada nggak buku yang bikin mbak sebel banget dan bikin trauma (?) buat baca buku-buku sejenis atau buku-buku karya penulis yang sama atau buku terbitan penerbit yang sama?

Hm, genre bacaan favoritku tuh romance, drama, dan perjalanan. Buku yang nggak bisa dilupain, yang jadi favorit itu sebenernya banyak. Tapi yang paliing aja yaa.... Aku pilih dua: fiksi yaitu Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (Dee) karena memang ceritanya keren banget juga gaya berceritanya asyik, dan nonfiksi yaitu Titik Nol (Agustinus Wibowo) karena menurutku kisah Kak Agus di situ benar-benar menginspirasi, bagaimana kehidupan pribadinya dikuak dengan gaya bahasa yang sangat apik. Supernova 1 bikin aku semakin semangat menulis saat SMU, dan Titik Nol kasih aku inspirasi saat lagi merevisi naskah bukuku.

Buku yang bikin sebel juga banyak, lebih karena nggak suka sama gaya berceritanya, tokohnya, yang bikin aku bosen atau stuck, haha! Tapi yang bikin trauma? Hm, hihihi, ada sebenernya, satu penerbit yang menurutku nggak pernah serius mengedit novelnya karena udah terbit tapi buanyaak banget kesalahan penulisannya. Tapi demi kepentingan etika, nggak usah disebut ya! Huahaha, yang jelas penerbit itu sekarang aku hindari dulu untuk membaca karya-karyanya. (aku curiga sama salah satu penerbit. hahaha)



4. Hehehe mbak dinoy kan udah jadi penulis, editor, dan proofreader nih, ceritain dong mbak pengalaman mbak menulis, mengedit dan ngeproofread-ria (?). Ya pokoknya awalnya gimana kok bisa jadi penulis editor dan proofreader, terus suka dukanya apa, ya gitulah pokoknya.

Ehm.... Awalnya bisa jadi proofreader dan editor ya karena tahun lalu aku mengajukan diri ke penerbit, karena aku merasa dengan udah makin sering baca dan tahu KBBI kejelianku jadi terasah. Karena sering meresensi buku pula aku juga bisa mengulas kelebihan dan kekurangan suatu buku, dan itu membantu banget saat membaca naskah. Pengalaman menarik saat memeriksa naskah, banyak sih ya... terutama ilmu bertambah karena semakin banyak partner (rekan editor atau rekan penulis) maka semakin banyak pula gaya penulisan yang aku kenal. Sering kesel juga saat naskah masih banyak salah jadi aku puyeng ngerjainnya, tapi lama-lama aku mikir itu malah jadi pembelajaran yang baik buatku.

Nah untuk jadi penulis, itu memang seperti mimpi yang jadi nyata. Maksudnya penulis yang karyanya dibukukan, yaa. Awalnya karena ada kompetisi menulis, aku ikut, dan ternyata jadi salah satu pemenang dan tulisanku dibukukan di buku antologi. Novel pertamaku yaitu Get Lost juga diawali karena lomba, hehe, aku ikutan lomba menulis di suatu penerbit tapi kalah sih... lalu kukirim ke penerbit lain dan ternyata diterima. Maksudku, gara-gara tahu ada lomba itu aku jadi termotivasi menyusun naskah Get Lost bener-bener dari nol, terpacu karena deadline-nya. Jadi meskipun kalah tapi kan sudah ada satu naskah untuk diajukan ke penerbit lain. (jadi kepikiran ngirimin naskah hasil kalah lomba ke penerbit hehehe) Senengnya jadi penulis ya seneng dan bangga ada tulisan yang dibukukan, lalu seneng ketika ada teman-teman pembaca yang bilang suka baca tulisanku. Lalu, seneng juga tentunya ketika nerima royalti! Ahaha. Dukanya, hm, sebenernya bukan duka sih, tapi seneng juga, hehe yaitu ketika baca kritikan teman-teman pembaca tentang kekurangan novelku. Masukannya bikin aku berkaca, karena memang aku mengakui tulisanku banyak kekurangannya dan pendapat mereka berguna untuk perbaikanku.


5.    Kasih kesan-kesan dong mbak gimana rasanya jadi guest di blognya Wenny hehehe (?)


Hehehe, kesannya ya seneng laah, bisa berkunjung di blog temen BBI lainnya. Aku pernah beberapa kali main ke blognya Wenny, baca artikel baik resensi maupun nonresensi. Seneng aja bacanya, cara ngeresensinya bikin ngikik tapi yang disampaikan banyak yang tepat sasaran! (dan Wenny pun tersipu malu) :D Jadi kan selingan juga karena aku merasa cara meresensiku standar aja, hihi. Lalu pernah baca artikel nonresensinya, tentang pendapat sekitar buku atau kebiasaan membaca juga bikin angguk-angguk kepala karena berasa curhat sendiri tapi diwakilin sama Wenny. Hehehe, jadi ya seneng bisa main-main ke widybookie.blogspot.com siapa tahu bisa ikut ketularan gokilnya Wenny yaa! ^^ Makasih ya Wenny buat kesempatannya boleh bertamu di blog bukumu. *peluks* *ciums*




Hehehe...
Sekian dulu ya guest post acakadut kali ini (bukan guestnya yang acakadut, tapi hostnya) (abaikan saja). Mari kita doakan Wenny yang akan mengikuti UTS untuk dua minggu ke depan.
^mulai deh curcol lagi

5 comments:

  1. Aku juga kalau suka satu baju akan pake baju itu terus, sama hal kayak makan, gak bosen tuh makan tahu goreng terus-terusan selama sebulan :D
    Kalau baca buku, sebenarnya dulu tipe monogami, tapi sekarang jadi mudah teralihkan, sejak aku kenal Kak Dinoy.
    Jadi, Widy, ati-ati ya :(

    ReplyDelete
  2. ga pernah bisa poligami.. dulu pernah nyoba, tapi pas balik dari 'selingkuhannya' pasti diulang baca dari awal.. :P emang malah bagus monogami ya? aq malah mikirnya kalo bisa poligami kan bacanya lebih cepet, timbunan juga cepet habis... hehehee

    ReplyDelete
  3. Eh, aku poligami loh #bangga Tapi, mesti kelar walau, nggak tentu kapan selese nya ;D

    ReplyDelete
  4. aku akuuu monogami :D soalnya kaya merasa berdosa kalo menelantarkan satu buku yang belum selesai hehehe... pdhl kalo dalam hal lain, aku termasuk yg takut sama komitmen lhooo *curcol*

    ReplyDelete
  5. Entah saya golongan monogami atau poligami. Tapi terkadang, kalo lagi baca buku yang gak sreg sama seleraku, saya menelantarkan gitu aja. Udah. Setelah itu gak dilirik-lirik lagi. Hahaha. Pembaca yang sadis ya. :D

    ReplyDelete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...