Saturday, October 29, 2016

Kelas Kepenulisan E-Book Fiksi Bareng Cipikabookmate



Menjadi penulis adalah mimpi besar banyak orang, termasuk aku. Namun kenyataannya, menulis sebuah buku hingga diterbitkan bukanlah hal yang mudah. Banyak rintangan yang terjadi dalam proses penulisan buku, mulai dari kebingungan bagaimana memulai sebuah tulisan hingga bagaimana meluluhkan hati penerbit untuk menerbitkan karya kita.

Di sisi lain, era digital merupakan era yang sangat berbeda dari era sebelumnya. Setiap aspek kehidupan akan memperoleh dampak dari pesatnya perkembangan teknologi, termasuk dunia perbukuan. Karakterisitik pembaca buku yang turut berubah seiring berubahnya jaman, membuat industri perbukuan mulai mengembangkan dan melakukan pergeseran produk. Hal ini tentu akan berdampak pada peluang para penulis di era digital.

Melihat masalah tersebut, Cipika Bookmate bekerja sama dengan Bentang Pustaka dan Indosat Ooredoo mengadakan sebuah acara talkshow dan workshop dengan tema Kelas Kepenulisan E-book Fiksi.

this post will be long, I've warned you.

 --o--

Jadi hari Sabtu pagi yang indah, 29 Oktober 2016, setelah sarapan, aku langsung ngegas motor menuju Ndoro Ajoe Resto di daerah Seturan buat menghadiri acara yang satu ini. Aku daftar kolektif bareng teman-teman dari Blogger Buku Indonesia.

Sampai di lokasi, masih sepi sementara mbak MC tengah mengajak penonton untuk mengunduh aplikasi Bookmate dan melakukan live tweet.

Sebelumnya, Bookmate itu apa sih?
Bookmate merupakan satu aplikasi yang dirilis tahun 2015 oleh Indosat sebagai sebuah aplikasi untuk membaca e-book. Ada ratusan ribu judul buku yang bisa kamu baca lewat aplikasi ini. Kamu cukup bayar satu kali untuk berlangganan dan kamu bisa jelajahi semua isi aplikasi ini. Selengkapnya, kamu bisa kunjungi websitenya atau unduh aplikasi Bookmate di Playstore atau aplikasi sejenis yang tidak saya pahami karena saya cuma ngeh sama Playstore.


Sayangnya saya datang ke acara itu tanpa kuota internet. Sedih dong, sedih banget. Jadi nggak bisa mengunduh aplikasi kebanggaan kita semua ini.

Sekitar lima belas menit setelah pukul 09.00, MC membuka acara pada pagi hari itu. Mbak MC adalah orang dari Indosat Ooredoo bagian e-marketing yang namanya aku lupa. Hehe. 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sesi pertama dari acara ini adalah talkshow bertema "Peluang Penulisan di Era Digital", menghadirkan Dwitasari (@dwitasaridwita), penulis 12 buku yang salah satunya adalah Raksasa dari Jogja, dan Salman Faridi (@salmanfaridi), CEO Bentang Pustaka.

copyright: @bentangpustaka


Pak Salman memulai talkshow kali ini dengan memberikan gambaran tentang era digital dan pengaruhnya terhadap reading habit masyarakat dewasa ini. Menurut beliau, masyarakat di era serba gadget seperti sekarang ini cenderung mengalami pergeseran reading habit dan menurunnya stamina dalam membaca dan menulis. Pergeseran reading habit ini mencakup rasa enggan masyarakat saat harus "kebanyakan ngeklik" untuk membaca tulisan tertentu, lebih menyukai hal-hal praktis, dan salah satu pergeseran yang cukup kentara adalah minat masyarakat dalam membaca e-book. Sementara stamina yang menurun ini meliputi mudahnya masyarakat merasa lelah dalam membaca bacaan panjang dan menulis tulisan panjang.

Berdasarkan kedua hal itulah, industri literasi saat ini memulai inovasi-inovasi baru, di mana mungkin lima tahun sebelumnya semua inovasi ini dianggap mustahil. Setiap hal memiliki masa keemasannya sendiri, beliau bilang (kemudian beliau mencontohkan, ehm, Awkarin). Banyak contoh inovasi ini, salah satunya penjualan e-book. Lantas beliau bercerita tentang suatu ide dimana buku bisa dijual digital dengan cara mencicil --dijual per bab--, dilatarbelakangi oleh isu menurunnya stamina membaca ini. Ide yang menarik, menurutku.

Senada dengan industri, penulis juga harus selalu melihat peluang dari era ini. Jika dulu jalur maistream untuk memublikasikan karya adalah dengan menulis-kirim karya ke penerbit-diterbitin-naik cetak-dijual di toko, saat ini ada banyak media untuk memublikasikan tulisan. Wattpad, salah satu media penulisan online yang sedang sangat booming, merupakan solusi cerdas untuk memublikasikan karya. Banyak tulisan di Wattpad yang mampu meraih pembaca berjuta-juta, padahal menurut cerita Pak Salman sangat sulit bahkan untuk menjual satu juta kopi buku Laskar Pelangi. Jadi, tak ada alasan bagi penulis untuk tidak show off dengan hasil karyanya, karena era digital ini sangat memfasilitasi keinginan penulis.

"Penulis adalah jiwa dari penerbit."

Tapi, jika penulis memang jiwa dari penerbit, mengapa penerbit banyak menolak naskah penulis?
Menyeleksi naskah merupakan suatu kewajiban, inilah yang disebut fungsi kurasi. Di media yang tidak melakukan fungsi ini, Wattpad misalnya, dengan jumlah buku dua ratusan ribu, akan muncul karya-karya unggulan sementara sisanya tidak akan mendapatkan awareness. Penerbit menghindari hal ini. Penerbit menyeleksi naskah untuk mengembangkan penulis-penulis di bawah asuhannya.

copyright: @CipikaBookmate

Kemudian sharing dilanjutkan oleh Dwitasari tentang bagaimana mulanya beliau merambah dunia kepenulisan. Berawal dari blog dan twitter, Plotpoint menawari beliau untuk mengikuti kelas kepenulisan novel bersama Clara Ng. Lagi-lagi, bukti bahwa dunia digital membawa peluang yang begitu besar bagi penulis. Rasa percaya diri terhadap hasil karya serta ciri khas tulisan menjadi modal utama bagi penulis untuk bisa show off pada era ini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah sesi tanya jawab selesai, sesi dua dimulai dengan pembicara kak Dila Maretihaqsari (@diladol), editor fiksi remaja-dewasa muda Bentang Pustaka (ini nih kayaknya orang yang nolak naskah saya tempo hari HAHAHAHA) tentang "Menerbitkan Naskah". Pada sesi ini ada banyak ilmu yang bisa diambil, dan kalau dituliskan semuanya akan membuat post ini selesai dalam tujuh hari tujuh malam (keburu abis deadline).

Inti dari sesi dua adalah:
Proses penerbitan buku: naskah diterima - asistensi naskah - editing - proofreading - order kaver

Ada beberapa trik yang kak Dila sampaikan agar naskahmu dan naskahku dan naskah kita semua dilirik editor:
- Surat pengantar / badan email saat kamu ngirim naskah, beliau jeleh sama penulis yang cuma ngasih attachment.
- Sinopsis: lengkap, jelas, singkat, tanpa membuat editor bertanya-tanya, sekitar satu halaman. Lebih bagus lagi kalau dibuat ringkasan per-bab, sepanjang maksimal dua halaman.
- Cantumkan pengalaman menulis walaupun cuma seonggok puisi nangkring di web koran lokal atau ikut kompetisi tapi ga menang-menang
  Tunjukkan keunggulan naskahmu, sesuatu yang beda dan cuma novelmu yang memilikinya di antara jutaan novel lainnya (nggak, mbaknya nggak ngomong gitu sih, itu biar heboh aja).
- Tema yang kekinian.
- Judul harus menarik
- Alur serta konflik yang memikat
- Penokohan yang kuat dan hidup. Dan manusiawi. Apakah akan membuat tokoh yang serba sempurna atau mempunyai satu cela, itu pilihanmu. Tapi mau tahu saran kak Dila nggak?
- Cerita yang logis. Walaupun kamu menulis fantasi, kamu tetap harus menyusun logika cerita. Jangan sampai fantasi membuatmu mengesampingkan logika. 
- Kenali segmen pembaca, hal ini berkaitan dengan konflik dan gaya bahasa.
- Self edit. Semua orang benci typo, gaes, percayalah. Cek KBBI juga boleh lho.
- Campur bahasa: nggak usah kebanyakan. Editormu nggak pinter bahasa Inggris. Footnote pun sebenarnya agak ganggu.
- Kenali karakteristik tiap penerbit. Caranya: banyak-banyak baca buku dari penerbit inceran kamu.

copyright: @CipikaBookmate


Kak Dila menambahkan, banyak orang yang membuka novelnya dengan opening yang standar. Tips beliau, bukalah ceritamu dengan kejadian, bukan deskripsi. Ceritakan, misalnya seseorang yang marah karena sudah memperingatkan kawannya bahwa pacarnya memang playboy, alih-alih menggambarkan pagi yang cerah dan mentari bersinar terang.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Istirahat berlangsung dari pukul 12.00-13.00 (anggap saja). Kami pun dapat makan siang: nasi, ayam goreng (gede banget T.T), dua potong tempe goreng, kerupuk, sambal yang manisnya nggak ketulungan, dua iris kecil mentimun, dan sepotong amat sangat kecil semangka putih tapi manis banget (masalah makan siang selalu jadi yang paling penting untuk dibahas).

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sesi after break diisi oleh Dwitasari dengan workshop bertema "Menjadi Penulis Novel Muda dan Berbeda". Hal yang ditekankan oleh beliau adalah bagaimana menjadi penulis dengan karya yang fresh dan "kamu banget".

copyright: @bentangpustaka

Pada dasarnya, tidak ada karya yang benar-benar baru. Semua jenis konflik yang ada adalah hasil modifikasi dari yang sebelumnya pernah ada. Kita bisa memperoleh inspirasi dari manapun, termasuk dari karya yang orang lain buat. Kunci dari modifikasi adalah tambahkan sentuhan yang "kamu banget", yang unik, yang nggak terpikirkan oleh orang lain. Untuk itu, kita dituntut untuk kreatif. Kreatif adalah hal yang bisa dipelajari dengan disiplin dan sering berlatih.

Pahami benar apa yang akan kamu tulis. Untuk itulah riset dibutuhkan. Bagi penulis pemula, Dwitasari menyarankan untuk mengambil unsur yang dekat dengan penulis sebagai tema cerita, karena penulis akan memahaminya betul dan riset akan menjadi lebih mudah.

Pembicara menyarankan untuk membuat kerangka kepenulisan, untuk membuat cerita lebih fokus. Beliau lantas menampilkan outline yang digunakan saat penulisan novel Memeluk Masa Lalu.

Konflik adalah alasan mengapa tulisan ditulis oleh penulisnya. Konflik berupa pertanyaan, yang dijawab oleh keseluruhan cerita. Konflik adalah nafas dari cerita itu sendiri.

Ending tergantung pada pilihan penulis, apakah akan berakhir suka atau duka. Namun Dwitasari berpesan bahwa apapun akhir cerita yang kita pilih, haruslah memberikan pesan kepada pembaca. Pesan yang menjadi alasan mengapa kamu menulis novel itu.

"Tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai."

Di akhir sesi ini, aku berencana untuk menanyakan pertanyaan yang kusimpan sejak awal acara. Maksud hati sih ingin menanyakan di saat yang tepat -abis workshop-, tapi ternyata yang tanya pas sesi ini hadiahnya voucher makan alih-alih goodie bag berisi buku. Kan aku orangnya nggak suka makan di rumah makan ya mental burjo, apalagi menu ikan, jadi ya, udah. Hahaha. Paragraf ini penting banget hft.

Sesi workshop selesai, dilanjutkan dengan Nulis Bareng Dwitasari. Seluruh peserta diminta untuk menulis sepanjang lima belas kalimat selama sepuluh menit dengan tema Jatuh Cinta Diam-Diam. Yang sudah selesai diminta maju untuk membacakan hasil karyanya. Herannya, baru dua menit udah ada yang kelar. Kayaknya dia udah punya stok cerita jatuh cinta diam-diam. Curiga deh, dia udah biasa jatuh cinta diam-diam, terus itu tadi curahan hatinya yang udah dia simpan selama ini, makanya cepat banget kelarnya. Yakin. Hm.

Btw, siapa tahu Dwitasari baca hehehe katanya harus PD to?

yayaya tauk ada typo orangg tauk


Selanjutnya sesi Curhat Bareng Dwitasari. Ada mbak-mbak dari UIN yang curhat tentang kisah LDRnya bersama cowoknya yang ada di Banten. Duh mbak, saya juga LDRan. Saya di Jogja, calon suami saya lagi disimpen Tuhan. Kurang jauh apa coba.

Acara diakhiri dengan foto bareng dan book signing bersama Dwitasari.

Yogyakarta merupakan satu dari lima kota yang menjadi tempat persinggahan (tsah) dari roadshow ini. Overall acaranya sangat interesting. Aku mau banget kalau ada acara semacam ini lagi, apalagi kalau gratis. Apalagi ada makan siangnya dan ayamnya sebesar itu #rejekianakkost


Kalau kita amati lebih lanjut di poster publikasi, ada tulisan 1 buku cetak terbitan Bentang Pustaka dan sertifikat sebagai fasilitas peserta (yang berarti merupakan hak dari semua peserta). Namun ternyata buku hanya diberikan untuk doorprize dan tidak ada sertifikat. Next time aku sangat berharap panitia konfirmasi dulu setiap fasilitas yang dijanjikan sebelum memublikasikannya, karena walaupun suatu saat ada revisi poster nggak semua orang akan tahu; karena seperti kata Dwitasari, ditinggalin pas lagi cinta-cintanya itu sakit :(

By the way, sekeluarnya aku dari venue, aku dapat ide cerita baru. Thanks Cipika Bookmate, you are my hero!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jadi, teman-teman adakah yang ikut acara ini? Atau ikut tapi di kota lain? Menurut kalian, acaranya gimana?
Adakah yang udah pakai aplikasi Bookmate? Aku dapat gratisan sebulan nih, kapan-kapan aku review di sini ya. Stay tuned!

widywenny

8 comments:

  1. Ada di Balikpapan ga ya? Kalau ada di Balikpapan sy mau ikutan. Hehehe..

    ReplyDelete
  2. Ada di Balikpapan ga ya? Kalau ada di Balikpapan sy mau ikutan. Hehehe..

    ReplyDelete
  3. Wah...seru pasti ya. Baru tahu ada aplikasi bookmate. Makasih buat sharing ilmunya tentang trik agar dilirik editor. :)

    ReplyDelete
  4. Hi mba Wenny, cuma bisa wow, lengkap sekali tulisannya. komprehensif. memang jaman sekarang makin banyak alternatif untuk mempublsih karya, ya, dulu alternatifnya sangat sedikit, sekarang sudah ada wattpad. thanks for sharing, tulisan in perlu aku tunjukkan ke teman2 yg suka nilis. moga-moga tercapai jadi penulis handal ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2, silakan dishare kak hehe
      aamiin *rapal mantra*

      Delete
  5. Iya, proses menulis sampai menerbitkan buku itu bukan hal yang mudah. Wah aku baru tau tentang bookmate, makasih sharingnya ya mbak. Calon suami lagi disimpen Tuhan haha, samaan mbak :p

    ReplyDelete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...