Sunday, March 9, 2014

[Review] Rectoverso - Dee

Judul: Rectoverso

Penulis: Dee

ISBN13: 9786027888036

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah halaman: 184

Tanggal terbit: 2013 (terbit pertama 1 Juli 2008)

Rating: 4/5






Ya, aku emang telat tahu kalau Dee punya karya yang sangat berbeda bernama Rectoverso.

Pertama tahu kalau Dee punya Rectoverso, pas ngelihat ada film yang berjudul sama. Eh ternyata filnya diangkat dari karya Dee. Seketika aku nonton filmnya. Karena filmnya menarik, aku jadi cari bukunya.

Rectoverso merupakan pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Dee punya sebelas cerita pendek, sebelas lagu, dan gambar-gambar pendukung di dalamnya. Karena Dee bilang bahwa cerita dan lagunya bisa dinikmati baik secara bersama-sama maupun secara terpisah, aku lebih milih cara aman aja: aku menikmati keduanya secara terpisah. Aku mau tahu mana yang lebih bisa membentuk imajinasiku, karena aku penikmat cerita dan juga penikmat musik walaupun aku masih kesulitan untuk mencampurbaurkan keduanya.

Tapi Dee bisa menikmati passionnya secara bersama-sama dalam sebuah karya bernama Rectoverso. Karya ini memang fenomenal, aku tahu, dan aku menyesal kenapa nggak tahu sejak dulu.

Ada sebelas cerita yang ada dalam buku ini, termasuk dua cerita berbahasa internasional yang membuatku terpaksa mencomot kamus ketika membacanya. Konon katanya, kesebelas cerita itu membahas tentang cinta. Dan dari kesebelas cerita itu, menurutku cerita yang endingnya benar-benar menutup kemungkinan untuk menimbulkan interpretasi-interpretasi liar dari pembaca cuma Malaikat Juga Tahu.

Merasa familiar dengan judul Malaikat Juga Tahu?
Masih ingat kan kalau setiap cerita di buku ini punya lagu pendamping sendiri-sendiri?

Dulu aku agak gagal paham setiap dengerin lagu Malaikat Juga Tahu. Aku nggak pernah perhatiin liriknya, aku juga nggak tahu kenapa Lukman Sardi menang penghargaan entah apa atas aktingnya dalam video klip dari lagu ini. Tapi setelah aku tahu cerita Malaikat Juga Tahu, aku baca-baca lirik lagunya lalu kesengsem sama suaranya Glenn Fredly kenapa malah dengerin yang versinya Glenn Fredly -_-, aku cuma bisa berkata "oh".

Bagaimana dengan cerita yang lain?
Aku agak nggak terlalu ngeh sama apa ending yang dimau sang penulis, karena endingnya emang menggodaku untuk melakukan interpretasi (?) lebih lanjut. Bagaimana menurut pembaca maksud dari cerita-cerita ini? Silakan pembaca pikirkan sendiri.

Cerita favoritku? Firasat (tuh kan, pasti familiar sama judul ini). Kenapa? Soalnya kadang-kadang kalo ada sesuatu yang nggak enak, aku bakal ngerasain firasat juga karena aku suka aja. Maksudku, aku benar-benar merasa ada yang bisa aku petik dari cerita ini.

Jadi kesimpulannya, mana yang lebih membuatku terpikat, cerita atau lagunya?
Dua-duanya.
Jujur saja, ada beberapa lagu yang nggak aku mengerti (aku cenderung lebih suka lagu-lagu berlirik lugas, biar nggak usah mikir, tinggal dengerin), tapi aku ngerti ceritanya. Ada juga yang lagunya lebih kumengerti daripada ceritanya. Kayaknya lagu dan cerita ini emang harus didengarkan secara berdampingan, walaupun nggak harus sepenuhnya.

Ah, terserah mah. Suka-suka yang dengerin juga.

Ngomong-ngomong, aku juga merasa kalau reviewku ini isinya curhatan doang, mana berantakan pula. Kalau mau ngegampar aku, nanti aja ya kalau ketemu :P

3 comments:

  1. haha, aku jadi penasaran sama buku ini. Sampe sekarang belum pernah baca gara-gara trauma baca novel dee yang aliran kelas berat kayak supernova xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku baru baca supernova yg KPBJ sama partikel. sejauh ini baru partikel yang bikin aku garuk-garuk kuping karena doi IPA banget.
      *anak IPA gadungan*
      perahu kertas bukan aliran kelas berat kok *eh*

      Delete
  2. Aku lagi baca buku ini. Nggak selesai2 karena tiap bab diulang-ulang. Hehee :D

    ReplyDelete

Komentarmu, bahagiaku ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...